7.08.2008

Bercermin Diri

Tatkala ku datangi sebuah cermin
Tampak sosok yang lama ku kenal
Dan sangat sering ku lihat
Namun aneh, sesungguhnya aku belum mengenal
Ya aku belum mengenal siapa yang aku lihat

Tatkala ku tatap wajah
Hatiku bertanya, apakah wajah ini yang kelak
akan bercahaya? Bersinar indah di surga sana?
Ataukah wajah ini yang akan hangus, legam dalam Jahannam?


Tatkala ku tatap mata, nanar, hatiku bertanya
Mata inikah yang akan menatap penuh kelezatan dan penuh kerinduan?
Menatap Allah, menatap Rasulullah, menatap kekasih-kekasih Allah kelak?
Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga,
Subur layu menatap bara Jahannam? Ataukah nikmat mata dan maksiat ini
Akan menyelamatkan?
Wahai mata, apa gerangan yang kau tatap selama ini?

Tatkala ku tatap mulut
Apakah mulut ini yang kelak akan mendesah
Penuh kerinduan mengucap لاإله إلا الله saat malaikat maut datang menjemput?
Ataukah menjadi mulut yang menganga dengan lidah menjulur?
Dengan lengking pekik jeritan pilu
Yang akan mencopot sendi setiap pendengar?
Ataukah mulut ini yang akan menjadi pemakan buah zakun Jahannam yang ketir,
Penghangus, penghancur setiap usus?
Apakah gerangan yang engkau ucapkan selama ini wahai mulut yang malang?

Berapa banyak dusta yang kau ucapkan,
Berapa banyak hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam,
Berapa banyak kata manis-manis madu yang palsu,
Yang kau ucapkan untuk menipu,

Betapa jarangnya engkau bicara jujur,
Betapa langkanya egkau menyebut nama Tuhanmu dengan tulus,
Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Tuhanmu mengampunimu.

Tatkala ku tatap tubuh,
Tatkala ku tatap tubuhku,
Apakah tubuh ini yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersuka cita,
bercengkrama di surga?
Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur,
mendidih dalam lahar membara Jahannam?
Terpanggang tanpa ampun, derita yang tidak akan pernah berakhir, نعوذ بالله

Wahai tubuh! Berapa banyak maksiat yang engkau lakukan?
Berapa banyak orang-orang yang engkau zhalimi dengan tubuhmu ini?
Berapa banyak hamba-hamba-Mu, Hamba-hamba Allah yang lemah,
Yang kau tindas dengan kekuatanmu?
Berapa banyak perindu pertolongan yang engkau acuhkan tanpa peduli
padahal engkau mampu.
Berapa banyak hak-hak yang engkau rampas?

Ketika aku tatap tubuhku,
Hai tubuh! Seperti apakah gerangan isi hatimu?
Apakah isi hatimu sebagus kata-katamu, ataukah seburuk daki-daki yang melekat ditubuhmu?
Apakah tubuhmu segagah ototmu, ataukah selemah daun-daun yang mudah rontok?
Apakah hatimu seindah penampilanmu, ataukah sebusuk kotoranmu?

Betapa beda, beda sekali apa yang tampak di cermin
dengan apa yang tersembunyi,
betapa aku telah tertipu, aku telah tertipu oleh topeng
betapa yang ku hias selama ini hanyalah topeng
HANYALAH TOPENG BELAKA,

Betapa pujian yang terhambur, hanyalah memuji topeng
Betapa yang indah, ternyata hanyalah TOPENG
Sedangkan aku hanyalah seonggok SAMPAH BUSUK yang terbungkus daging,

Aku tertipu ........
Aku malu ya Allah,
Aku tertipu ........
Allah, Allah, Allah
Selamatkanlah kami

By: KH. Abdullah Gymnastiar

No comments:
Write komentar

Leave your comment

Google+ Followers

PRchecker.info