3.28.2009

Situ Gintung Mengingatkan Kita Semua


Jumat 27 maret pukul 4.30, tragedy bencana alam kembali terjadi di Indonesia, tidak tanggung tanggung sekitar 79 tewas hingga tulisan ini dibuat dan mungkin akan bertambah lagi karena diberitakan masih hilang belum ditemukan. Situ Gintung, suatu danau buatan di daerah Cirendeu Ciputat Tanggerang Banten mengingatkan kita kembali akan perilaku kita sebagai manusia terhadap alam sekita. Saat manusia akan memulai harinya, tanggul tua buatan penjajahan Belanda yang menahan debit air selama bertahun-tahun itu jebol dan mengakibatkan bajir air bah di pagi buta tersebut. Puluhan korban meninggal dan tidak sedikit yang masih hilang dan terluka. Sungguh tragedy yang sangat menyisakan perih dan sedih dihati kita semua. Satu dari sekian puluh korban meninggal adalah adik kelas elmarzuqi waktu masih nyanti di Pondok Pesantren Darul Mujahadah Margasari Tegal.

Jauh memang lokasi bencana tersebut dari tempat elmarzuqi sekarang tinggal (di Gorontalo). Tetapi Ciputat adalah tempat perjuangan elmarzuqi selama kurang lebih 4 tahun menuntut ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Cirendeu Ciputat tempat Danau Situ Gintung berada adalah salah satu kenangan akan indahnya alam semasa belajar di sana. Namun kini tempat yang indah itu tinggal puing-puing bangunan yang hancur rata dengan tanah akibat diterjang banjir air bah Situ Gintung.

Sungguh tragedy yang mirip dengan Tsunami Aceh 2004 silam. Bencana itu datang pagi-pagi di saat manusia sedang terlelap dan baru memulai harinya untuk beraktifitas seperti biasa. Ya Allah ujian atau azabkah yang ingin Engkau samapaikan kepada kami saat ini? Kami sadar bencana tidak akan lepas dari perilaku manusia yang hidup di sekitarnya. Namun Engkau pastilah lebih Tahu bahwa masih ada hamba-hambamu yang setia dan istiqomah menjalankan syariat-Mu. Orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan hanya berbuat kerusakan dan maksiatlah yang lebih pantas Engkau beri peringatan. Namun hamba sangat bersyukur dengan adanya peringatan-Mu ini. Engkau masih melindungi tempat ibadah hamba-hamba-Mu yang taat. Itu sebagai bukti Engkau masih sayang terhadap kami. Allahu akbar.

Sobat, tidak ketinggalan dua petinggi negeri ini (SBY dan JK) menyempatkan waktu untuk melihat salah satu tempat dari negeri yang dipimpinnya sekarang tertimpa musibah. Puluhan warganya meninggal (yang berarti juga mengurangi jumlah suara pemilih dua partai besar tersebut) dalam tragedi tersebut. Namun kami bersyukur mereka masih punya hati nurani untuk menyisihkan waktu (kampanye) untuk menengok warga dan lokasi yang terkena musibah. Instruksi untuk segera menangani bencana itupun segera dismapiakan kepada pihak yang diberi amanat kewenangan.

Ironis memang. Di saat negeri sedang mempersiapkan hajat besar Pemilu 2009 ternyata bencana masih saja mengancam bahkan menerjang masyarakat Indonesia. Belum cukupkah penderitaan warga akibat bencana yang seolah sekarang menjadi jadwal rutin yang tidak bisa ditolak. Jawabannya tentu kembali lagi pada manusia yang sudah kurang bahkan tidak peduli lagi dengan keberadaan alam sekitarnya. Kuncinya adalah keseimbangan antara perilaku manusia dan pemeliharan alam. Ketika alam telah dimasuki tangan-tangan bisnis maka orientasi keseimbangan tidak lagi dihiraukan. Yang ada hanyalah bagaimana eksploitasi alam terus menerus dilakukan demi mengejar profit semata.

Tragedy Situ Gintung Jum'at fajar kembali membuka mata manusia untuk kembali sesaat tersadar akan pentingnya keharmonisan hidup dengan alam. Bencana seolah tidak lagi berkompromi dengan lokasi, baik di kota, di desa maupun di mana saja setiap saat bahaya siap menerjang manusia yang tidak lagi menghiiraukan alamnya. Sayangnya kesadaran yang dimiliki manusia saat ini masih bersifat spontan, hari ini mungkin kita terhenyak dengan tragedy Situ Gintung, barangkali dua hari lagi kita sudah larut dalam perbincangan caleg mana yang mau dicontreng 9 April nanti. Mau gimana lagi? Inilah realita yang terjadi pada kita saat ini. Tulisan ini sekedar mencoba mengingatkan dan selalu mengingatkan posisi kita sebagai individu dan sebagai manusia yang selalu serakah dengan alam atau bahkan dengan manusia yang lain. Semoga bisa merubah sikap dan perilaku kita ke arah yang lebih baik lagi. Dan terakhir kita doakan bagi para korban bencana Situ Gintung untuk mendapat tempat di sisi-NYA dan kesabaran selalu menaungi bagi keluarga yang ditinggalkannya.Amieen

2 comments:
Write komentar
  1. Mudah2n mereka yang terkena musibah meninggal dalam keadaan Syahid....

    ReplyDelete
  2. Dimana ya Hati Nurani (bukan hanura ya.....) bangsa qt.....
    masak bencana di jadiin ajang kampanye...
    Mudah-mudahan kampanye yang mereka lakukan membawa berkah tersendiri bagi korban...

    ReplyDelete

Leave your comment

Google+ Followers

PRchecker.info