4.05.2009

Jangan Salah Pilih Caleg: Pilihlah yang Berkualitas

Genderang Pemilu Legislatif 9 April 2009 terus berdentum keras. Orasi dalam berbagai momen kampanye selalu “berisik” terlontar dari para Jurkam partai politik peserta Pemilu. Berbagai macam cara kampanye diselenggarakan demi mencari simpatik dan dukungan masyarakat yang tidak “tolol” lagi untuk “dibodohi” agar memilih caleg dari partai yang mengusungnya. Namun semua itu tergantung dari diri kita masing-masing. Maukah kita meimilih para anggota “wakil” rakyat yang salah, yang tidak berkualitas (emotional, intellectual dan spiritual)? Hati-hati jangan sampai salah contreng.

Empat (4) hari kedepan kita akan melaksanakan pesta akbar demokrasi, yakni Pemilu 2009. Satu permasalahan umum yang dihadapi tidak berbeda dengan saat-saat sebelumnya adalah menentukan pilihan. Meskipun seorang caleg memiliki pribadi dan performance yang mengesankan, menarik dan “seakan” meyakinkan, dalam kenyataannya hal itu ternyata cuma tipuan. Apakah anda semua sudah memiliki jagoan untuk di-CONTRENG?

Agar tidak tertipu lagi, marilah kita identifikasi caleg-caleg yang tidak berbobot (bermutu):
1. Mengandalkan uang
Caleg yang tidak berkualitas tidak mampu meyakinkan konstituennya bahwa dia layak untuk dipilih, karena memang kualitasnya tidak ada. Untuk mengatasinya, caleg-caleg ini kemudian memilih cara yang sangat gampang, yakni money politics. Anda semua pastilah tahu cara-cara kampanye semacam ini.

2. Terlalu mengandalkan kebesaran nama partai
Banyak caleg yang memasuki partai-partai besar bukanlah karena dia merasa cocok/klop dengan partai tersebut, namun dia berharap dengan bergabung partai besar, dia dapat mengandalkan kebesaran partai tersebut untuk mempengaruhi konstituennya. Ada saja caleg yang seperti itu (ga pede).

3. Mengandalkan keluarga, daerah dan kelompok
Seandainya seseorang memperhatikan keluarga, daerah dan kelompoknya dan menawarkan strategi perjuangan untuk keuntungan keluarga, daerah dan kelompoknya, maka hal itu dapat dikatakan cerdas. Namun, dalam kenyataannya, caleg-caleg tidak berbobot meminta kasihan kepada keluarga, daerah dan kelompoknya. Satu-satunya isu yang dikembangkan hanyalah isu emosional.

4. Mengandalkan sejarah dan masa lalu
Secara umum, logika pembuktian sangat berkaitan dengan masa lalu. Oleh karenanya, caleg tidak berkualitas mengungkit-ngungkit kebesaran masa lalunya, kebesaran masa lalu orang tuanya, dan kebesaran masa lalu partainya. Padahal, sebagai caleg, dia seharusnya memiliki ide untuk perbaikan di masa depan.

5. Terlalu mengandalkan orang tua
Salah satu ciri lain caleg tidak berkualitas adalah membesar-besarkan nama orang tuanya. Padahal yang terbaik adalah dia menjual “kualitas, capablititas dan kredibilitasnya” dirinya karena memang ia dapatkan atas jerih dan payah dirinya. Jadilah pemuda sebagaimana pepatah Arab berkata :
إن الفتى من يقول ها أنا ذا

“Sesungguhnya pemuda (yang berkualitas)” adalah yang mengatakan “Inilah aku” (bukan mengandalkan kebesaran dan keberhasilan orang tuanya”


So, tentukan pilhan sobat masing-masing dengan kesadaran penuh memilih caleg yang sudah tau betul kiprahnya. Sekarang sudah punya pilihan? Atau harus golput? Sssstt … Itu terserah anda masing-masing. Elmarzuqi ga’ nyuruh lho. :) Tapi kalau tetap masih bingung elmarzuqi setuju banget dengan usulan mas eri tuh. Dari pada golput lebih baik ngeblog, supaya tidak “go-Blog” ayolah nge-Blog.

No comments:
Write komentar

Leave your comment

Google+ Followers

PRchecker.info