2.22.2014

Positif dan Negatif Globalisasi

Orang bilang kita sekarang berada pada era globalisasi. Artinya dunia sudah menjadi global. Seakan-akan garis dunia yang panjang garis khatulistiwanya 40.000 km itu telah mengecil, sehingga peristiwa yang terjadi di suatu pojok dunia, pada saat yang bersamaan dapat dilihat oleh manusia yang berada di pojok dunia lain yang berbeda benua. Dunia seakan-akan kehilangan batas-batas geografis, sehingga seratus lima puluhan negara yang berada di planet bumi ini bagaikan kapling-kapling dari sebuah real estate. Batas kedaulatan menjadi samar, karena terobosan informasi dengan segala implikasi budaya dan politik bisa menelusup tanpa sensor sama sekali.
Orientasi berfikir manusia dipaksa untuk bersikap secara global. Itu semua terjadi sebagai dampak dari perkembangan iptek (ilmu pengetahuan dan tekhnologi). Perpaduan televisi dan satelit dalam rekayasa kemajuan informasi telah menjadi satu bola salju peradaban dunia yang menggelinding di atas panggung bumi. Terkadang perkembangan iptek itu merupakan tantangan tersendiri bagi para ahli hukum agama, para ulama dan fuqoha, misalnya tatkala iptek telah berbicara tentang reproduksi manusia dengan bio tekhnologi kloning.
Di satu sisi, kemajuan dalam bidang tekhnologi informasi ini, khususnya media elektronik telah mendatangkan keuntungan bagi komunitas tertentu, dengan memanfaatkannya sebagai ajang promosi produk dari berbagi jenis barang komersial kepada para konsumennya di seantero dunia. Kita lihat saja berbagai macam iklan di layar TV, mulai dari iklan celana dalam yang dipajang dengan mempertontonkan wanita aduhai yang berpose tiga perempat bugil dan sangat seronok, sampai pada iklan produk yang berharga ratusan juta rupiah, yang lagi-lagi memanfaatkan keindahan tubuh wanita sebagai strategi bisnis.
Ada juga memang manfaat positif yang dapat kita peroleh dari tayangan televisi, seperti ceramah-ceramah agama, namun porsinya terlalu sedikit jika dibandingkan dengan tayangan lainnya yang berdampak negatif terhadap sikap hidup. Bahkan tak sedikit tayangan-tayangan TV yang mengakibatkan kerusakan moral.
Rayuan mass media yang menawarkan seperangkat gaya hidup mewah, konsumtif dan bebas, tampaknya sulit untuk dibendung, baik dengan tindakan maupun dengan peraturan. Bisa saja ada sekelompok orang yang mencoba mengharamkan TV dengan pertimbangan presentase mudhorotnya lebih besar, tetapi begitu mereka keluar rumah, mereka akan menyaksikan televisi hidup di sepanjang trotoar jalan, berupa remaja putri yang memamerkan aurat, remaja putri yang berpenampilan lebih hebat dari penampilan bintang-bintang sinetron yang dipelototinya setiap saat di layar televisinya.
Pendek kata, globalisasi yang merebak seiring dengan kemajuan iptek termasuk di dalamnya tekhnologi informasi, di samping telah memberikan kemudahan bagi manusia, juga telah memberikan dampak negatif yang tidak sedikit. Berbagai penyakit kejiwaan telah mengakrabi manusia seperti: kebingungan, kesendirian, neurosis, susah tidur, perasaan frustrasi, mental masa bodoh, dll.
Nilai-nilai moralpun menjadi longgar, kesucian seksual telah menjadi bahan pelecehan sehari-hari, nilai-nilai kebangsaan mengendor, solidaritas sosial menjadi motto dan pemanis retorika belaka. Ketidak-adilan mewarnai pola kehidupan manusia yang terkikis moral keagamaannya.
Alam tempat berpijaknya manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan pun tak luput dari kerusakan akibat ulah-ulah tangan manusia global. Tepatlah sinyaleman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 41:
ty
Artinya: “Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kajalan yang benar)”.
Dunia dengan segala kecanggihan tehnologinya di samping telah menimbulkan berbagai macam kerusakan ternyata juga telah banyak melahirkan manusia-manusia aneh. Di antara yang menonjol keanehannya adalah George W. Bush. Betapa tidak aneh, mulutnya berteriak mengutuk terorisme, tetapi pada saat bersamaan ia mempertontonkan tindakan terror paling biadab, tatkala ia dengan dukungan Tony Blare (PM Inggris) dan George Howard (PM Australia) menginvasi irak tanpa legitimasi PBB yang terjadi puluhan tahun yang lalu.
Syaikh Abd. Qodir Al-Jailani pernah memprediksi, bahwa kelak umat manusia akan berjumpa dengan suatu jenis pemimpin yang mempunyai lidah tetapi tak mempunyai hati, له لسان ولا قلب orang semacam itu bicaranya bisa lebih manis dari madu, akan tetapi hatinya adalah hati srigala. Perbuatan mereka didorong oleh kecenderungan mengaktualkan nafsu syaithoniyah, suatu sifat yang merupakan instink terendah dari manusia.
Rasulullahpun pernah mengisyaratkan akan munculnya orang-orang aneh, tetapi orang-orang aneh versi Rasulullah ini adalah orang-orang yang baik, sehingga beliau menyatakan: طو بى للغرباء"  yang artinya “berbahagialah orang-orang yang aneh”.
Ucapan ini tentu saja tidak ditujukan kepada George W. Bush dan orang-orang yang satu tipe dengannya. Tetapi yang dimaksud orang-orang aneh menurut beliau ialah:
“Orang-orang yang baik yang berada di tengah orang-orang buruk yang banyak, yang menentangnya lebih banyak dari pada yang mentaatinya” (H.R. Ahmad).
Dengan redaksi yang lain, alm. M. Natsir menjelaskan bahwa Rasulullah menyatakan: “Berbahagialah orang-orang aneh yang berusaha memperbaiki sunnahku yang telah dirusakkan orang-orang”.
Jadi Al-Ghuroba adalah pelopor penegak kebenaran yang telah diacak-acak manusia. Mereka sampaikan kebenaran walau di depan matanya menghadap kelewang pedang, karena di hatinya sudah terhujam rasa cinta kepada sang Maha Benar.
Ketika manusia sudah merasa asing dengan agamanya, ketika kaum muslimin telah menyimpang jauh dari sunnah Rasul-Nya dan telah kehilangan jati dirinya yang Islami, Al-Ghuroba datang menawarkan pelita kesejukan yang memberikan jalan terang bagi manusia untuk meniti cara hidup yang benar.
Rupanya sudah menjadi sunnatullah, bahwa sesuatu itu terjadi serba berpasangan. Sebagaimana firman Allah:
Artinya: “Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (Yasin: 36).
Maka tatkala kerusakan di bumi sudah sedemikian merajalela, akibat perilaku orang-orang aneh yang destruktif negatif, Allah SWT mengaruniai umat para ghuroba (orang-orang aneh) yang konstruktif, yaitu orang-orang yang memperbaiki kerusakan, yang mau menegakkan kembali kebenaran yang telah diinjak-injak. Setiap ada aksi niscaya akan muncul reaksi.
Sebagaimana kita saksikan bahwa kerusakan telah merajalela, maka sebagai umat Islam kita tak boleh diam seribu bahasa. Siapa lagi yang kita tunggu sebagai ghuroba? Apakah kita tunggu ratu adil datang ke tengah kita untuk memperbaikinya? Tidak, sebab sosok ratu adil itu tidak jelas. Apakah kita tunggu Rasul Allah yang baru? Jangan, sebab rasul tak akan ada lagi setelah Nabi Muhammad saw. Para ghuroba itu bukan orang yang menunggu-nunggu. Mereka adalah orang-orang yang ditunggu-tunggu. Kalianlah yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat, maka antum ini sebagai ghuroba. Bersiap-siaplah kalian untuk memperbaiki apa yang telah dirusakkan manusia, dengan senjata amar ma’ruf nahi munkar:
“Dan hendaknya ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. (Ali Imran: 104)
Tentu saja kita menghendaki keberuntungan. Oleh karena itu marilah kita laksanakan amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Marilah kita masuk barisan orang-orang aneh yang ditunggu-tunggu umat untuk memperbaiki kerusakan yang telah dilakukan orang-orang aneh yang terlaknat.
Sadarilah, bahwa apabila gerakan ishlah dengan amar ma’ruf nahi munkar ini telah diabaikan oleh semua orang, maka orang-orang yang tidak melakukan kerusakan pun akan terkena siksa Allah. Camkanlah firman Allah berikut ini:
Artinya: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zholim, saja di antara kamu (yaitu mereka yang telah melakukan kerusakan di bumi). Dan ketahuilah bahwa Allah sangat pedih siksanya”. (Al-Anfal: 25). (KH. Asrori Muhtarom, Pimpinan PP Darul Mujahadah)





   
    


No comments:
Write komentar

Leave your comment

Google+ Followers

PRchecker.info