3.24.2015

Prasangka Buruk

1
Jum’at pagi kami berangkat ke Semarang dengan Xenia baru milik pamanku. Itulah pengalaman pertamaku bepergian ke daerah Semarang. Meski aku orang Tegal, tapi Semarang sebagai ibu kota tanah kelahiranku belum pernah aku menginjakkan kaki ke sana. Beberapa jam tertunda dengan dua kali memeriksakan kondisi mobil agar lancar dalam perjalanan, aku nikmati dengan ber-Facebook ria dan meng-update status tiap beberapa jam.
Setelah shalat Jum’at di sebuah masjid di pinggiran kota Pemalang kami terus melanjutkan sehingga pukul setengah empat sore kami sampai di Kampus Stikes Widyatama Semarang. Sekitar 30 menit pamanku mengikuti kuliah tentang refraksi mata, akhirnya keluar juga dan menuju ke sebuah pusat perbelanjaan sekaligus menyerahkan tugas akhirnya ke dosen pembimbing yang kebetulan mengurusi bisnis optic yang ada di lantai bawah DP Mall Semarang. 


Malam itupun kami menginap di rumah saudara yang kebetulan bertempat tinggal di pinggiran kota Semarang. Setelah ngobrol banyak tentang apa saja dengan tuan rumah kami pun tertidur dengan nyenyak. Sekitar pukul 4.15 aku bangun untuk melaksanakan shalat fajar dua rakaat. Lima belas menit kemudian adzan Shubuh berkumandang. Akupun bergegas menuju mushalla dekat rumah. Sebelum berangkat aku melihat sandalku yang ada di luar rumah tergeletak dengan rapi. Dalam hati aku berkata “Alhamdulillah sandalku masih ada meskipun di luar rumah dan tidak ada yang mengambil.” Dengan fikiran sedikit berprasangka buruk terhadap orang-orang yang mungkin ikut shalat berjamaah di mushalla nanti, akupun tidak membawa sandalku tersebut dan meminjam sandal yang biasa saja dan kalaupun ada yang membawa setelah shalat tidak mengapa. 

Namun yang terjadi apa sahabat? Setelah pulang dari mushalla aku tidak melihat lagi sandalku yang ku tinggalkan tadi. Aku tanyakan kepada tuan rumah pun tidak ada yang tahu. Setelah ku pikir-pikir kembali apa yang salah pada diriku, ternyata buruk sangka ku terhadap jama’ah subuh mushalla dekat rumah tadi yang mengakibatkan kejadian itu terjadi. Astagfirullahal’azdhim. Sungguh halus sekali Allah memberikan pelajaran bagi diriku. Berharga sekali hikmah yang aku peroleh pagi itu. Aku menyadari bahwa su’uzhan ku membawa keburukan yang harus aku dapati. Terima kasih ya Allah telah mengingatkanku dengan kejadian itu.


No comments:
Write komentar

Leave your comment

Google+ Followers

PRchecker.info