5.15.2013

Budaya Corat-Coret Usai Pengumuman Lulus UN


Budaya corat-coret baju saat pengumuman UN di Indonesia sperti sudah mendarah daging bagi pelajar. Alasannya mudah dan sepele ketika mereka ditanya soal mengapa corat-coret baju. “Saking senengnya pak, dah lulus UN”, “Cuma ikut-ikutan temen, sebab kalau gak pasti dikejar-kejar dan rame-rame ikut mencoret”, “Ya sebagai solidaritas temen-temen untuk merayakan keberhasilan melewati UN” dan masih banyak lagi alasan-alasan lain yang bias kita temui untuk pertanyaan tesebut di atas.
Yang namanya sudah mendarah daging (baca: membudaya) ya agak susah untuk menghilangkan kebiasaan corat-coret baju seragam setelah pengumuman UN. Padahal berbagai cara untuk mencegah hal tersebut sudah dicoba pada tahun sebelumnya. Seperti pengumuman kelulusan UN dihadiri oleh orang tua saja, pengumumannya lewat media cetak, radio dan lain sebagainya. Namun hal tersebut belum bisa mencegah aksi para siswa yang suka corat-coret dan melakukan konvoi masal dengan mengeraskan suara kenalpot motornya. Padahal polisi pun dan ditempatkan di setiap sudut gang dan jalan-jalan yang kemungkinan besar dilalui para siswa untuk melancarkan aksi konvoi dan corat-coret baju dan rambutnya. Terus bagaimana solusinya?
Nah tahun ini ada “jurus” dari Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau biasa dipanggil Jokowi yang mungkin bisa menghentikan atau mencegah aksi corat-coret baju usai pengumuman kelulusan Ujian Nasional.
Mengutip berita dari Antara, Jokowi mengatakan agar saat pengumuman kelulusan tersebut, para siswa mengenakan busana daerah. 
"Dari pada corat-coret, saya minta Kepala Dinas Pendidikan, agar saat pengumuman para siswa pakai baju adat. Dari Sabang sampai Merauke," kata Jokowi dalam acara Pengarahan usai Ujian Nasional di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Kamis (18/4/2013). 
Dia mengatakan bahwa kebiasaan corat-coret baju tersebut tidak pernah ada di Indonesia. "Bukan adat kita itu," katanya. 
Dia bahkan meminta para siswa agar mengumpulkan dan menyumbangkan baju sekolah mereka untuk para adik-adik uang kurang mampu. 
"Kan lebih baik dikumpulkan dan diberikan ke adik-adik yang kurang mampu," katanya. 
Selain itu, dia berharap agar para siswa tidak mencoret-coret fasilitas umum yang ada di Jakarta seperti jalan raya, halte dan dinding jalan.

1 comment:
Write komentar
  1. Emang udah kudu dirubah mind set siswa kita

    ReplyDelete

Leave your comment

Google+ Followers

PRchecker.info